Tampilkan postingan dengan label Gizi Komunitas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gizi Komunitas. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 April 2014

WASPADA! ANAK INDONESIA PENDEK

Di awal tahun ini Indonesia dihadiahi kado yang kurang menyenangkan dari dunia gizi. Bagaimana tidak? Hasil Riskesdas 2013 menyatakan bahwa proporsi anak pendek dan sangat pendek di Indonesia usia balita mencapai angka 37,2%. Bila dibandingkan dengan Riskesdas 2010, maka ada kenaikan 1,6% dari proporsi pada tahun 2010 yaitu 35,6% (Riskesdas, 2013). Hal ini mengindikasikan bahwa Indonesia masih memiliki pekerjaan besar untuk mencapai target Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) pada 2014, yaitu <32% (Depkes, 2012). Istilah anak pendek dan sangat pendek sendiri sebenarnya didefinisikan sebagai anak yang tinggi badannya pada usia tertentu lebih rendah dari standart WHO yang disepakati sebagai patokan secara universal. Pendek yaitu bila TB/U <-3SD s.d -2SD, sedangkan sangat pendek berarti TB/U <-3SD.
Gambar 1. Kecenderungan Nasional 2007-2013 : Proporsi Pendek pada Balita
(Riskesdas, 2013)

Faktor Penyebab
Banyak faktor yang menjadi penyebab seorang anak tidak bisa mencapai tinggi badan optimal menurut usianya yang digolongkan dalam 3 (tiga) kategori yaitu penyakit kronis (termasuk kelainan genetik terkait gizi), keturunan berperawakan pendek, keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan (Cohen, 2008). Keadaan ini menyebabkan anak kekurangan gizi sejak dalam kandungan (janin), bayi, hingga berlangsung terus hingga sampai usia 2 tahun (Soekirman, 2012). Periode ini disebut periode emas/golden period atau disebut juga sebagai waktu yang kritis, yang jika tidak dimanfaatkan dengan baik akan terjadi kerusakan yang bersifat permanen/window of opportunity (Depkes, 2012).

Gambar 2. Dampak Jangka Pendek dan Jangka Panjang Akibat Gangguan Gizi pada Masa Janin dan Anak-Anak (Rajagopalan, 2003)

Pendek atau stunting merupakan dampak jangka panjang dari gangguan gizi semasa janin, masalah ini juga ditentukan oleh status gizi ibu. Data nasional tentang gizi ibu sangat tidak tersedia, namun berat lahir rendah dan anemia memberikan sebuah indikasi adanya gangguan pemenuhan gizi. Berat anak saat lahir merupakan akibat langsung dari status kesehatan dan gizi ibu sebelum dan selama kehamilan. Secara nasional, proporsi anak dengan berat badan lahir rendah pada tahun 2013 masih pada angka 10,2%. Sedangkan anemia juga merupakan masalah yang mempengaruhi 37,1% ibu hamil di Indonesia (Riskesdas, 2013).
Ilmu pengetahuan mutakhir dan diakui oleh lembaga-lembaga PBB, faktor utama pendek adalah lingkungan yang tidak mendukung proses pertumbuhan dan perkembangan anak sejak dalam janin. Faktor lingkungan yang dominan di negara berkembang dan miskin adalah kekurangan gizi dan penyakit infeksi (Soekirman, 2012). Faktor lingkungan yang lebih luas yang mendorong terjadinya faktor di atas adalah faktor kemiskinan, merokok, gizi tidak seimbang, rendahnya pendidikan wanita, masalah gender, rendahnya kualitas lingkungan hidup, tidak tersedia air bersih, banyak anak, rendahnya kualitas pengasuhan anak, perempuan kawin usia muda, tidak adanya layanan gizi dan kesenatan dasar yang tepat dan efektif. Berbagai faktor tersebut menjadi penyebab sepertiga sampai separuh ibu hamil sejak awal kehamilan kekurangan gizi dan tidak sehat.
Masalah anak pendek dan gizi ibu tidak mudah dilihat, pada umumnya orang tidak tahu bahwa masalah gizi merupakan sebuah masalah, kecuali kasus gizi kurang yang secara nyata menampakkan anak yang sangat kurus (Unicef, 2012).
Pada umumnya, orang tidak menyadari pentingnya gizi selama kehamilan dan dua tahun pertama kehidupan. Perempuan tidak menyadari pentingnya gizi mereka sendiri. Misalnya, 81% perempuan hamil menerima atau membeli tablet besi-folat pada tahun 2010, tetapi hanya 18% yang mengkonsumsi tablet sebagaimana direkomendasikan minimal selama 90 hari selama masa kehamilan (Unicef, 2012).

Gerakan 1000 Hari Pertama Kehidupan
Atas dasar itulah pada tahun 2012 PBB resmi membuat Scale Up Nutrition (SUN) Movement yang meluas ke berbagai negara berkembang di dunia, termasuk Indonesia. Di Indonesia, gerakan ini bernama Gerakan 1000 Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK). Angka 1000 berasal dari 270 hari masa kehamilan ditabah 730 hari usia baduta. Gerakan ini diresmikan dengan diluncurkannya panduan Gerakan 1000 HPK pada Oktober 2012 yang lalu. Dalam panduan tersebut telah dirancang panduan perencanaan kegiatan untuk intervensi gizi yang terdiri dari intervensi spesifik dan sensitif. Intervensi gizi sensitif yaitu intervensi berupa kegiatan di luar sektor kesehatan yang berperan penting dalam perbaikan gizi masyarakat.. Sedangkan intervensi gizi spesifik yaitu intervensi langsung berupa kegiatan untuk menangani masalah gizi yang pada umumnya dilakukan di sektor kesehatan sejak masa janin dengan sasaran ibu hamil (Depkes, 2012).

Gambar 3. Penyebab Masalah Gizi beserta Intervensi Sensitif dan Spesifik

 Suplementasi Tablet Besi-Folat
Ibu hamil membutuhkan zat besi dan asam folat tambahan untuk memenuhi kebutuhan gizi mereka sendiri serta janin yang sedang berkembang. Kekurangan zat besi dan asam folat selama kehamilan dapat berdampak negatif dan berpotensi mengganggu kesehatan ibu, kehamilannya, serta perkembangan janin (WHO, 2012). Konsentrasi hemoglobin rendah menunjukkan anemia sedang atau berat selama kehamilan telah dikaitkan dengan peningkatan risiko kelahiran prematur, angka kematian ibu dan anak, dan penyakit menular. WHO merekomendasikan suplementasi tablet besi dan asam folat harian sebagai bagian dari perawatan antenatal untuk mengurangi risiko berat badan lahir rendah, anemia ibu dan kekurangan zat besi (WHO, 2012).
Zat besi dibutuhkan dalam pembentukan hemoglobin untuk mencegah anemia (Fanny dkk, 2012). Sedangkan folat berperan penting dalam metabolisme karbon, untuk fisiologis sintesis asam nukleat, pembelahan sel, regulasi ekspresi gen, metabolisme asam amino dan sintesis neurotransmitter. Selama kehamilan,  peningkatan asupan folat diperlukan untuk proliferasi sel yang cepat dan pertumbuhan jaringan rahim dan plasenta, pertumbuhan janin dan penambahan volume darah ibu. Pentingnya pasokan folat yang memadai selama masa kehamilan mempengaruhi status folat ibu dan kekurangan folat dapat mengakibatkan kecacatan neural tube defects (NTDs) dan malformasi kongenital lainnya (Zerfu dkk, 2013).

Penelitian oleh Stewart, dkk (2009) menyatakan bahwa suplementasi yang dilengkapi dengan zinc pada masa antenatal dapat mendukung pertumbuhan anak. Penelitian tersebut membandingkan suplementasi asam folat + besi, asam folat + zat besi + zinc, dan formula multiple micronutrient dan hasilnya suplementasi pada ibu hamil dengan asam folat + zat besi + zinc berhasil menaikkan rata-rata tinggi dan mengurangi rata-ratatriceps skinfold thickness, subscaular thickness, dan arm fat area. Kombinasi mikronutrien lain, termasuk formula multiple micronutrient tidak menunjukkan pengaruh besar pada pertumbuhan (Stewart dkk, 2009).
Pada sebuah review oleh Zerfu (2013) menyebutkan bahwa penelitian-penelitian yang dilakukan di berbagai tempat membuktikan bahwa suplementasi multielemen membawa manfaat bagi ibu hamil, janin, bahkan hingga masa kanak-kanak dibanding hanya dengan suplementasi besi-folat saja. Namun masih ada variasi hasil terkait efek MMN terhadap kelahiran premature, SGA, dan kematian bayi. Maka, masih dibutuhkan penelitian tentang variasi kombinasi dan dosis suplementasi mikronutrien pada area dengan prevalensi malnutrisi yang tinggi.

Pengalaman Pelaksanaan Program Distribusi Suplementasi Tablet Besi-Folat
1.    Gambia, prevalensi anemia dan defisiensi besi pada wanita berkurang secara signifikan dan peningkatan berat lahir rata-rata sebesar 56 g.
2.    Indonesia mencapai 31% penurunan anemia pada kehamilan.
3.    Nepal, cakupan suplementasi tablet besi-folat untuk trimester kedua meningkat dari 27% menjadi 73% hanya dalam tiga tahun.
4.    Nikaragua, mampu mengurangi tingkat anemia nasional pada wanita dari 23,7% menjadi 11,2% dalam lima tahun.

Kunci Sukses Program Distribusi Suplementasi Tablet Besi-Folat
1.    Memastikan pasokan komoditas yang memadai melalui peningkatan manajemen logistik dan sistem pengiriman.
2.    Membangun dan memperkuat mekanisme untuk distribusi masyarakat secara langsung kepada perempuan untuk meningkatkan akses.
3.    Memberikan pelatihan berkualitas dan pengawasan bagi pekerja dari masyarakat.
4.    Mempromosikan perubahan perilaku komunikasi melalui kampanye komunikasi yang ditargetkan dengan kunci tertentu pesan untuk meningkatkan permintaan dan kepatuhan.

Kesimpulan
Intervensi untuk menurunkan anak pendek harus dimulai secara tepat sebelum kelahiran, dengan pelayanan pranatal dan gizi ibu, dan berlanjut hingga usia dua tahun. Proses untuk menjadi seorang anak bertubuh pendek – yang disebut kegagalan pertumbuhan (growth faltering) - dimulai dalam dalam rahim, hingga usia dua tahun. Pada saat anak melewati usia dua tahun, sudah terlambat untuk memperbaiki kerusakan pada tahun-tahun awal. Oleh karena itu, status kesehatan dan gizi ibu merupakan penentu penting tubuh pendek pada anak-anak.


 

DAFTAR PUSTAKA
Cohen, dkk. 2008. Consensus statement on the diagnosis and treatment of children with idiopathic short stature: a summary of the Growth Hormone Research Society, the Lawson Wilkins Pediatric Endocrine Society, and the European Society for Paediatric Endocrinology Workshop. J Clin Endocrinol Metab. Nov;93(11):4210-7. doi: 10.1210/jc.2008-0509. Epub 2008 Sep 9. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/18782877 Diakses tanggal 8 Januari 2014
Am J Clin Nutr 2009;90:132–40
2008


Senin, 17 Februari 2014

OBSESSIVE CORBUZIER’S DIET, AMANKAH?




oleh : Endah Retno Palupi, S.Gz


Obsessive Corbuzier’s Diet, atau disingkat OCD, adalah konsep diet penurunan berat badan dan pembentukan otot yang diperkenalkan oleh Deddy Corbuzier berdasarkan pengalamannya menerapkan diet ala biarawan kuno dari Cina. Diet ini seketika menimbulkan pro-kontra sejak kemunculannya. Lalu, bagaimana sebenarnya tinjauan gizi untuk OCD?
Sebelumya, akan ada beberapa poin prinsip dalam OCD yang akan dibahas terlebih dahulu, yaitu: puasa, jendela makan, dan pantangan sarapan.

Puasa
Inti OCD adalah puasa. Bedanya dengan puasa umat Islam adalah bahwa puasanya OCD masih boleh minum. Syaratnya minuman yang diperbolehkan adalah minuman yang tidak berkalori (atau bergula). Dalam OCD lamanya puasa juga ditentukan bertahap dari 16 jam, 18 jam, dan 20 jam. Puasa ini dimaksudkan untuk memicu tubuh mengeluarkan hormon-hormon pemecah lemak seperti glukagon, hormon pertumbuhan, dan katekolamin yang meningkat dalam kondisi puasa sehingga lemak dapat dibakar. Semakin lama orang berada dalam posisi tanpa makanan (keadaan rendah insulin/menurunkan gula darah), semakin meningkat proses ini.

Jendela Makan
Ada istilah jendela makan, yaitu rentang waktu yang diperbolehkan mengkonsumsi makanan apa pun tanpa batasan (asal tidak rakus). Jendela makan ini ada yang 8 jam, 6 jam, dan 4 jam yang berarti durasi puasanya 16 jam, 18 jam, dan 20 jam. Dianjurkan pula mengkombinasikan dengan puasa 24 jam agar lebih cepat menampakkan hasil.

YA untuk Makan Malam, TIDAK pada Sarapan
OCD juga berarti pantang sarapan, sebagai gantinya dianjurkan untuk makan malam. Alasannya? Karena makan pagi akan membuat lapar seharian, mengantuk seharian, dan menurunkan pembakaran lemak. Mengutip penelitian yang tidak disebutkan sumbernya, Deddy menyimpulkan makan pagi akan menghambat kesempatan pembakaran lemak saat mulai beraktivitas pagi hari setelah puasa tidur. Sedangkan makan malam akan dibakar saat tidur sehingga tidak akan menjadi masalah.

BAGAIMANA GIZI MEMANDANG FENOMENA OCD INI?
Perlu diketahui bahwa penerapan OCD ini ditekankan hanya untuk orang dewasa sehat, artinya orang dalam keadaan sakit atau kondisi tertentu misalnya diabetes, sakit jantung, anak-anak, ibu hamil tidak dianjurkan untuk mengikuti cara diet ini. Ada beberapa hal dalam panduan OCD yang perlu ditinjau dari segi gizi, antara lain :

Konsep Penurunan Berat Badan
Untuk menurunkan berat badan, asupan makan seseorang tidak boleh melebihi kebutuhannya dengan pemilihan bahan makanan yang tepat sesuai gizi seimbang. Yaitu dengan mengurangi porsi sumber karbohidrat dan lemak, sebaliknya proporsi sumber makanan berserat sayur dan buah perlu ditambah. Tentunya upaya penurunan berat badan ini tidak instan, melainkan secara bertahap. Diet gizi seimbang bukan berarti tidak bisa makan enak, bukan berarti harus mengeluarkan biaya lebih. Anda tetap bisa makan enak, murah, plus sehat.

Tentang Puasa
Puasa memiliki banyak manfaat. Puasa membersihkan tubuh dari sisa metabolisme, saat berpuasa tubuh akan menggunakan zat‐zat makanan yang tersimpan. Saat berpuasa terjadi proses adaptasi tubuh terhadap berkurangnya asupan sumber energi dan cairan. Adaptasi terkait dengan keseimbangan energi meliputi terjadinya glikogenolisis, lipolisis dan glukoneogenesis. Sedangkan adaptasi pada keseimbangan cairan terutama dilakukan oleh ginjal dengan mengurangi volume urin yang diproduksi dengan bantuan ADH, aldosteron dan kerja saraf simpatis.
Kadar gula darah cenderung turun saat seseorang berpuasa. Hal ini memberi kesempatan pada kelenjar pankreas untuk istirahat, sehingga produksi insulin juga menurun. Puasa dapat menghilangkan lemak dan kegemukan, secara ilmiah diketahui bahwa lapar tidak disebabkan oleh kekosongan perut. Tetapi juga disebabkan oleh penurunan kadar gula dalam darah.
Pada hari-hari biasa pencernaan bekerja selama 18 jam sehari tanpa henti. Di waktu puasa (Ramadhan), lambung dan sistem pencernaan akan istirahat selama lebih kurang 12 sampai 14 jam, selama lebih kurang satu bulan. Jangka waktu ini cukup mengurangi beban kerja lambung untuk memproses makanan yang bertumpuk dan berlebihan.
Namun bagaimana bila dilakukan terus-menerus? Maka secara terus-menerus akan menurun nafsu makannya, sehingga dengan kurangnya asupan makanan yang masuk tidak ada bahan bakar untuk energi. Karena tidak ada masukan dari luar, maka untuk tetap dapat menghasilkan energi tubuh akan membongkar simpanan yang dipunya. Maka dari itu berat badan akan turun. Namun perlu diwaspadai karena bila simpanan lemak telah habis digunakan sebagai energi, maka tubuh akan memecah otot (proses glukoneogenesis) untuk digunakan sebagai energi.

Pantangan Sarapan
Sarapan tetap dibutuhkan oleh tubuh untuk menyediakan energi, menunjang konsentrasi dan memori. Dalam konteks penurunan berat badan, suatu penelitian menyebutkan dalam sebuah uji terhadap dua kelompok wanita obesitas, kelompok 1 diberikan diet dengan sarapan 700 kkal, makan siang 500 kkal, dan makan malam 200 kkal. Sementara kelompok 2 diberikan diet dengan sarapan 200 kkal, makan siang 500 kkal, dan makan malam 700 kkal. Total kalori kedua kelompok sama 1400 kkal, yang membedakan adalah kelompok 1 diberikan asupan sarapan lebih banyak sedangkan kelompok 2 asupan kalori diberikan paling besar saat makan malam. Hasilnya kelompok 1 mengalami rata-rata penurunan BB sebesar 17,8 pounds dan rata-rata berkurangnya lingkar pinggang sebesar  3 inchi, dibandingkan kelompok 2 yang rata-rata penurunan BB sebesar 7,3 pounds dan 1,4 inchi pada lingkar pinggang. Ini karena dengan kalori yang lebih besar saat sarapan, akan mengurangi akivitas hormon ghrelin (hormon yang merangsang lapar dan meningkatkan nafsu makan) sehingga kelompok tersebut tidak banyak ‘nyemil’ di sela makan, sebaliknya pada kelompok dengan porsi sarapan lebih sedikit hormon ghrelin meningkat sehingga lebih sering ‘nyemil’. Di penelitian lain tahun 2011 membuktikan meninggalkan sarapan berhubungan dengan kejadian overweight dan obesitas.

KESIMPULAN
1.       OCD ini ditekankan hanya untuk orang dewasa sehat.
2.       Konsep puasa OCD baik karena mengambil manfaat-manfaat baik dari puasa.
3.       Lambung dan saluran pencernaan memiliki batasan kapasitasnya, sehingga batasan waktu makan (seperti penerapan jendela makan) untuk memenuhi kebutuhan zat gizi sehari akan membebani kapasitas lambung dan saluran pencernaan.
4.       Puasa OCD berlangsung cukup lama antara 16-20 jam, bahkan 24 jam. Hingga saat ini belum ditemukan penelitian tentang efek puasa melebihi 14 jam (sebagaimana saat puasa Ramadhan di Indonesia) secara terus-menerus. Maka bagi yang ingin menerapkan OCD, dianjurkan mengkombinasikan OCD jendela makan 8 jam (waktu puasa 16 jam) dengan konsep puasa dalam Islam. Berarti Anda akan makan dari pukul 18.00 – 02.00 (sama dengan waktu berbuka hingga sahur, atau sebaliknya).
Ingat bahwa belum ada penelitian yang menguji efek jangka panjang OCD, maka Anda tetap harus berkonsultasi kepada ahli gizi atau dokter untuk memantau perkembangan Anda.